Daerah Wisata Sulawesi Tengah

Air Terjun Wera

 
Air terjun Wera terletak di ketinggian 100 mtr berada di Desa Balumpewa  Kabupaten Donggala , ± 1 Km dari jalan raya poros Palu-Donggala. Selain itu terdapat juga Permandian Air Panas Montokole yang terletak  ± 2 Km sebelah Selatan Taman Wisata Wera .
Daya tarik Air terjun Wera  antara lain Mandi/berenang di Sungai Wera ,Mendaki gunung kearah puncak bukit menuju air terjun yang dikelilingi dengan pemandangan yang indah, Camping (Berkemah) di daerah datar pada bagian Utara dan di puncak bukit .Flora dan fauna terutama Ayam Hutan, serta kehidupan masyarakat sekitarnya.
 

Wisata Pulau Togian

 

Obyek Wisata Pulau Togean indah dan eksotis terutama alam bawah lautnya yang memiliki berbagai karang tropis dalam ukuran besar serta berbagai spesies ikan hias dan kepiting kenari.
Kepulauan Togean letaknya di Kabupaten Tojo Unauna Sulawesi Tengah. Perjalanan menuju Togean dapat ditempuh dua jam jalan darat dari Kabupaten Poso ke Ampana – Tojo Unauna yang dilanjutkan naik perahu motor.
Dikawasan Pulau Togean ini terdapat Gunung Merapi yaitu Gunung Colo yang pernah meletus pada awal tahun delapan puluhan.
Kegiatan Memancing, berlayar, berenang dan menyelam dapat dilakukan dikawasan ini. Sederetan pulau-pulau kecil dan besar yang berhutan lebat yang dihuni oleh babi hutan dan Pesisir pantai  dihuni suku Bajou yang membuat rumah diatas laut .
Pulau-pulau kecil di Togean juga memiliki pantai berpasir putih untuk berjemur dan pada senja hari menikmati matahari terbenam.
Keindahan pulau-pulau karang menambah kecantikan alam Togean , Kepulauan yang terletak di tengah Teluk Tomini ini ditumbuhi kawasan hutan yang belum terjamah dan menjadi tempat perlindungan bagi hewan-hewan yang ada di dalamnya.
Obyek keindahan terletak pada di pantai dan laut dengan berbagai kombinasi bentuk karang berpadu dengan birunya air laut yang jernih.
Kepulauan Togean merupakan satu-satunya tempat di Indonesia yang memiliki tiga lingkungan karang yang berbeda yaitu karang atol, karang barier dan karang pantai yang semuanya menjadi habitat dari flora dan fauna laut.
Karang atol ini berbentuk pulau karang yang ditengah-tengahnya terdapat danau yang dalam.
Karang barier merupakan deretan karang yang berjejer mengelilingi pulau menyerupai benteng atau dinding di laut yang melindungi pulau dari terjangan ombak laut. Karang ini di kedalaman 200 mtr dan muncul diatas permukaan laut sampai dengan beberapa meter.
Pulau Batudaka merupakan pulau terbesar dan yang paling mudah dicapai di kepulauan Togean. Di Pulau Batu Daka ini selain desa Bomba sebagai desa pemukiman terdapat desa Wakai tempat/ pelabuhan pemberangkatan ke Pulau Kadidiri yang merupakan obyek wisata di kepulauan Togean.
Di desa Bomba sangat baik untuk berenang dan snorkeling dan mengunjungi goa kelelawar yang tidak terlalu jauh dari desa Bomba.
Beberapa kilometer ke arah pedalaman terdapat air terjun.
Pulau Kadidiri merupakan pulau paling populer , pantai yang sangat indah dengan lokasi snorkeling dan menyelam sempurna. tersedia banyak penginapan murah dan di sebelah barat pantai terdapat deretan batu karang terjal yang menjadi habitat kepiting karang.
Kawasan pemukiman utama di Pulau Togean adalah Desa Katupat ,di sekitar pulau terdapat kawasan pantai yang lebih indah dan sangat bagus untuk trekking.




Anemonfish



Banded sea snake


Barracuda

Black coral shrimp

Clonw triggerfish and pink anthias
 Dengan pemandangan yang indah maka para touris atau pelancong berdatangan tapi tidak akan semua jelajahi,karena luasnya laut yang akan di arungi.

Corals in a cave

Dolphin


Gorgonian


Gorgonian and sponges

Hammerheads

Hawkfish

Nembrotha kubaryana

Nudibranch
 Dengan keanekaragaman hewan laut yang indah tak bosan-bosannya saya akan berkunjung ke daerah wisata ini.

Pink clownfishes


Shrimp

Sponge and glassfishes

Three chromodoris bullocki

Lionfishes

White tip shark

Wide angle


Wide angle
Categories: Wisata Tags:

Tanjung Karang

28/08/2010 Comments off
Tanjung Karang merupakan lokasi wisata terpenting di wilayah ini sekaligus menjadi salah satu objek wisata andalan Provinsi Sulawesi Tengah. Pantai Tanjung Karang terletak sekitar 5 km di utara Donggala.
Tidak jauh dari Pantai Tanjung Karang terdapat objek wisata Pusentasi. Merupakan sumur air asin yang letaknya kurang lebih 10 meter dari pantai dengan garis tengah kurang lebih 15 meter dan dengan kedalaman kurang lebih 7 meter.
Oleh masyarakat setempat disebut Pusentasi yang artinya pusat laut. Bila air surut maka air di dalam sumur akan naik dan sebaliknya bila pasang naik air di dalam sumur akan surut. Pusentasi berada di dalam kawasan objek wisata Pantai Pasir Putih Pusentasi Towale yang memiliki panorama alam dan udara yang sejuk, serta dihiasi oleh jejeran karang di pinggir pantai yang sangat indah dan berwarna-warni.
Konon masyarakat setempat mempercayai bahwa jika kita berhasil menyentuh bagian bawah dari sumur air asin (pusentasi) yang berbentuk tangan dan berdoa agar diberi jodoh maka itu akan menjadi kenyataan. Percaya?  Silahkan mencoba.

 
 
Terletak kira-kira 96 km ke arah timur Luwuk dan banyak ditemukan Burung Maleo di pantai selatan semenanjung Banggai. Burung Maleo merupakan binatang khas Sulawesi yang mirip ayam, yang bertelur di atas tanah panas yang bervulkanik, tempat mereka hidup berkeliaran. Sarang-sarang burung ini dilindungi dan untuk mengambilnya harus meminta ijin dari kantor PPA (Perlindungan dan Pengawasan Alam) di Batui.
 

Wisata Kepulauan Banggai

 
Kepulauan ini tempat menghindar dari keramaian. Pulau terbesar adalah Peleng, sedangkan Banggai agak kecil. Di sepanjang pantai Banggai penuh dengan pohon kelapa. Batu karang dan ikan tropis memberikan pemandangan yang indah pada taman laut. Pantai barat Pulau Banggai dikembangkan sebagai kawasan peternakan mutiara.Pulau terbesar yang ada di kabupaten Poso ini mempunyai panorama alam yang indah seakan tiada duanya.
Di pulau ini juga ada sebuah istana raja zaman dulu yang dilindungi, sebagai bukti bahwa pulau ini penting di zaman lampau. Pulau ini dapat diccapai dengan perahu atau ferry dari Luwuk.
Diving

Anemon Shrimp


Arlequin Ghost Pipe Fish



Cardinal Fish

Corals

Sponge

Bubble Coral Shrimp

Crab in bubble coral



Crinoide Fish

Ghost Pipe Fish

Lion Fish




Porcelain Crab

Puffer Fish

Shrimp

Squat Lobster

Pygmy

Shrimp

Frog Fish


Mandarin Fishes


Worm
 

Pantai Kilo Lima

 
Pantai yang terkenal dikota luwuk ini sudah banyak didatangi oleh wisatawan dari luar negri.mereka umunya menikmati pemandangan bawah lautnya yang memiliki keanekaragaman dan pemandangan lepas pantai yang indah.
Pesona wisata pantai yang indah dan bersih di dekat jantung kota Luwuk, merupakan objek wisata utama yang memberikan banyak fasilitas dan beragam masakan khas daerah dan dari luar daerah Kabupaten Banggai yang tersedia di kafe-kafe disepanjang kawasan wisata.
Selain itu masih banyak kawasan wisata tirta dan bahari yang mempersembahkan keindahan alam bawah laut dan pantai yang bersih dan indah, seperti di Pulau Dua di Kecamatan Balantak, dan daerah pantai lainnya yang meninggu para investor untuk mengembangkan potensi keindahan alam yang ada.
Kilo Lima terletak 5 km dari Luwuk, suatu pantai berpasir putih yang dapat digunakan untuk berenang dan mandi.

Air Terjun Hanga-hanga


Air terjun ini menghadap Teluk Tole dengan ketinggian 75 meter dan merupakan kawasan rekreasi yang populer di kalangan masyarakat setempat, yang jauhnya 3 km dari Luwuk.

Suaka Morowali


Pesisir pantai Hutan Lindung Marowali.
Morowali yang berarti ‘gemuruh’ dalam bahasa Wana dan merujuk kepada bunyi sungai yang mengalir di bebatuan. Morowali terletak jauh di ujung timur propinsi ini di Kecamatan Bungku Utara dengan luas 160.000 ha, dengan gunung, danau hutan dan saluran banjir. Suatu suaka alam yang baru pernah dikunjungi oleh suatu ekspedisi Inggris Operation Drake pada tahun 1979 sebagai penelusuran perjalanan keliling dunia. Tuan Francis Drake dengan kapalnya “The Golden Hind” yang berlabuh di salah satu pantai pada tahun 1580. Para ahli menghubungkan “Operation Drake” dengan sebuah survei keadaan hutan iventaris tanaman, binatang dan serangga serta penelitian biologi kelautan di daerah tersebut. Ada 5 sungai yang mengalir melalui suaka tersebut. Daerah pelabuhan bergunung-gunung dan dihuni oleh Suku Wana yang suka berpindah-pindah. Daerah ini dapat dihubungkan dengan Bone melalui Pesawat Cesna misioner ke Tokala Atas dan Beteleme. Dengan perjalanan 6 – 7 jam menggunakan jeep daerah ini dapat ditempuh dari Tentena ke Kolonodale. Kolonodale memiliki sebuah hotel tetapi tidak ada tempat menginap yang memungkinkan di kawasan suaka tersebut kecuali hanya mengharapkan kemurahan hati masyarakat Bajo di pantai atau Wana di daratan.
Rumah di atas laut suku Bajoe.
Rumah Suku Wana Pinggiran Hutan lindung Marowali.
Cagar Alam Morowali
Cagar Alam Morowali (CAM) luasnya 225.000 Ha terletak di Kabupaten Morowali. CAM berfungsi sebagai pelindung hutan tropis di Pulau Sulawesi. Ekosistem yang ada dalam kawasan lindung beranekaragam mulai dari pantai, hutan mangrove, hutan alluvial dataran rendah, hutan rawa, hutan pegunungan dan hutan lumut pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini juga memiliki danau dan tiga sungai utama.
Dalam kawasan CAM terdapat masyarakat tradisional Suku Wana berjumlah sekitar 2.000 orang. Masyarakat Wana yang belum mengenal kehidupan moderen berdomisili di Desa Posangke, Kayupoli, Uwewaju, Ratobae, Sangkoe dan Langada. Mereka menjadi obyek penelitian para ilmuwan dan studi bagi para pelajar.
CAM yang juga dihuni berbagai jenis binatang pernah disinggahi oleh Sir Francis Drake seorang pelaut  dari inggris pada abad XV. Untuk mengenang petualangan Drake, tahun 1980  dilaksanakan duplikat Operation Drake. Lokasi CAM dapat ditempuh dengan bus dari Kota Palu ke Kolonedale sejauh 431 KM atau 10 jam perjalanan. Dari Kolonedale perjalanan dilanjutkan dengan motor laut selama 1 jam.
Categories: Wisata

Taman Laut Teluk Tomori


Dari Tentena / Pendolo perjalanan dapat dilanjutkan ke Teluk Tomori, sekitar 157 km yang dapat dicapai 4 jam dengan bus. Teluk Tomori memiliki keindahan alam tersendiri yang menarik. Airnya tenang dan kadang-kadang menyerupai sebuah cermin yang memantulkan bayangan gunung di sekitarnya dan sebuah rangkaian kepulauan yang indah yaitu Payau Dara nama pulau yang terletak di pusat laut dan beberapa pulau kecil lainnya, seperti Pulau Lampu, Pulau Tokabe, Pulau Bunda dan Pulau Tomori.
Mori sebuah pulau kecil yang berbentuk oval yang memanjang dari utara ke selatan dengan pantai di bagian timur dan barat yang berpasir putih tetapi pantai di bagian utara dan ke selatan merupakan bebukitan yang tingginya hingga 300 meter. Di sekitar Pulau Tomori terdapat Taman Laut yang indah yang merupakan urutan ke-27 dunia di pintu gerbang Teluk Tomori. Di sana ada juga batu karang di tengah laut yang menyerupai pohon beringin setinggi 25 meter dari dasar laut dan disebut Batu Apali oleh masyarakat Tomori yang tinggal disekitar teluk. Ada warisan kuno di puncak batu itu dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Setiap kapal/perahu yang lewat di sana harus membunyikan klakson sebagai tanda permisi bila tidak ingin celaka dalam perjalanan. Teluk tersebut juga memiliki ribuan spesies ikan.
Masyarakat Tomori memiliki budaya dan seni tradisional seperti pesta perkawinan, pesta pemakaman serta tari dan lagu daerah yang indah dan menarik. Dalam perjalanan dari Tentena / Pendolo dapat dilihat pemandangan alam seperti padang rumput yang luas dan perkebunan karet Beteleme atau istirahat di Tomori Indah. Di sini dapat dilihat pemandangan alam seperti hutan sejuk di gunung, menikmati gedung kesatuan tradisi Mori dan Toraja.

Taman Nasional Lore Lindu


Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) tertetak sekitar 20 km arah Tenggara kota Palu (menuju Kulawi atau Napu). Secara Geografis terletak pada 1190 58′ – 1200 16′ Bujur Timur dan 1° 8′- 10 3 Lintang Selatan. Secara Administratif pemerintahan, taman nasional ini teletak di wilayah Kabupaten Donggala dan Sigi. Di bagian utara, berbatasan dengan Dataran Lembah Palu dan Dataran Lembah Pablo, sebelah timur berbatasan dengan Dataran Lembah Napu, sebelah selatan dengan Dataran Lembah Bada, dan sebelah barat dengan Sungai Lariang dan dataran Lembah Kulawi.
Secara hukum, Taman Nasional Lore Lindu dikukuhkan oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Keputusan No.  464/Kpts-Il/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas kawasan  217.991,18 ha. Sedangkan untuk pengelolaanya, berdasarkan  Peraturan Menteri Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007, sejak Tanggal I Februari 2007, diserahkan kepada Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.
TNLL terletak di sekitar pertemuan lempengan benua yang membentuk pulau sulawesi. Efek dan benturan lempengan mi membentuk kawasan TNLL sehingga daerah mi merupakan pertemuan flora dan fauna dan masing-masing lempengan. Akibat dart adanya penyatuan lempeng tersebut, tidak mengherankan jika di TNLL banyak terdapat lipatan dan perubahan bentuk dan massa daratan sejak pulau mi terbentuk pertama kali.   Keadaan tanah di TNLL bervariasi dan yang belum berkembang (entisol), sedang berkembang (inseptisol hingga yang sudah berkembang (alfisol dan sebagian kedil ultisol.
Secara keseluruhan, curah hujan di TNLL bervariasi antara  2000-3000 mm/tahun di bagia utara dan 3.000-4.000  mm/tahun di bagian Selatan. Suhu bekisar antara 22-34°C.  Rata-rata kelembaban udara adalah 86% dengan kecepatan  angin rata-rata 3,6 km/jam.
Flora
Tumbuh-tumbuhan Sulawesi yang kaya dan endemik merupakan satu dan yang paling sedikit dipelajari dan pulau-pulau utama Indonesia, balk dabam hal komposisi taksonomi serta karakteristik-karakteristik ekologi.  Distribusi geografis dan tipe vegetasi bergantung pada banyak faktor lingkungan, seperti ketinggian, temperatur, curah hujan, drainase, dan kondisi-kondisi tanah.
Secara umum, hutan TNLL dibagi kedalam 3 tipe hutan utama, sebagai berikut:
Hutan Dataran Rendah (Lowland Forest) tipe hutan mi berada pada kawasan hutan dengan ketinggian dibawah 1.000 mdpl. Jenis tumbuhan yang dapat ditemui di kawasan mi, antara lain: Rotan (Callamus spp.), Beringin ((Ficus spp.), pohon raksasa Leda (Eucalyptus deglupta), Aren penghasib bahan gula (Arenga pinnata), Kepayang (Pangium edule)sertajenis Artoca,pusspp. yang kulitnya biasa digunakan sebagai bahan pembuat pakaian kulit potion (dalam bahasa bokab : fuya).

Hutan Pegunungan Rendah Pada ketinggian antara 1.000 s/d 1.500 mdpl dapat dijumpai tipe hutan pegunungan bawah. Di kawasan mi pohon tumbuhlebih pendekdengan diameteryang lebih kecil. Jenis flora yang tumbuh di kawasan mi, antara lain : Berbagai Epiphyte termasuk 88 spesies anggrek yang tebah diketahui,jenis pakis yaitu Asplenium sp. dan Platycerium sp., terdapat juga Pohon Uru dan Damar (Agat his dammara).

Hutan Kayu Alpin tipe hutan ini terdapat pada ketinggian diatas 2.000 mdpl.  Daun-daun tumbuh kecil. Lumut tumbuh tersebar menutupi Iantai hutan. Kabut menjaga udara tetap lembab. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan pencucian hara tanah (Nitrogen), sehingga kesuburan tanah berkurang. Spesies kantung Semar (Nepenthes sp.) Mendapat tambahan nutnsi dengan menjebak serangga yang masuk kedalam bunganya.
Hutan Sekunder. Selain tiga tipe utama di alas, terdapat pula hutan sekunder, yaitu hutan yang telah pernah dibersihkan untuk perladangan berpindah, kemudian ditumbuhi vegetasi sekunder, seperti Cemara (Casuarina sumatrana) serta tegakan campuran antara Wanga (Figafetta filans) dan Leda (Eucalyptus deglupta).
Fauna
Taman Nasional Lore Lindu juga kaya dengan fauna khas Sulawesi dan sudah dikenal di kalangan internasional, diantaranya sebagai benkut:
Mamalia: Anoa (Bubalus depressicomis dan Bubalus quarlessi), babi rusa (Babyrusa babyrousa), Palanger Sulawesi (Phalanger celebencis), Tarsius (Tarsius dianae), Monyet Sulawesi (Macaca tonkeana), Civet (Macrogalidia musschenbroeckii).

Anoa (Bubalus depressicomis dan Bubalus quarlessi)


Babi Rusa (Babyrusa babyrousa)


Palanger Sulawesi (Phalanger celebencis)

Tarsius (Tarsius Dianae)

Monyet Sulawesi (MacacaTonkeana)

Civet (Macrogalidia musschenbroeckii)

Burung: Maleo (Macrocephalon maleo), Rangkong (Rhyticeros cassidix), Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan burung pegunungan lainnya.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo)

Burung Rangkong (Rhyticeros cassidix)

Burung Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus)

Reptilia : Ular Piton (Python reticulatus), King Kobra (Ophiophagus hannah), Ular Pembalap (Elapheeiythrura dane.jansen) dan 64 jenis ular lainnya. Ditemukan juga 21 jenis cicak besar.
Serangga: Berbagi jenis serangga seperti kupu-kupu, kumbang dan berbagai serangga lainnya.
Budaya
Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan TNLL sebagian besar merupakan suku ash, yang terdiri atas Suku Kaili (Kaili Ledo, Kaili Ija, Kaili Ado, kaili Moma, Kaili Tohulu dan Kaili Da’a),
Kulawi, Behoa, Pekurehua dan Bada.Selain suku ash, terdapatjuga para pendatang, seperti suku Bugis, Jawa, Toraja dan Bali. TNLL juga kaya akan berbagai budaya kesenian masyarakat, seperti tarian rego.

Megalith
Keunikan lain yang dimiliki oleh TNLL adalah adanya Megalith atau Batu besar peninggalan prasejarah pada zaman batu. Batu-batu tersebut diperkirakan barasal dan masa 3.000-1.300 SM. Terdapat sekitar 419 Megalith yang tersebar di dalam dan sekitar kawasan TNLL, dengan nncian :43 di daerah Lore Utara, 306 di Lore Tengah, 57 di Lore Selatan dan 13 buah di Kulawi.
Patung-patung megalith mi diperkirakan sebagai patung-patung pemujaan para nenek moyang. Patung megalith yang tertinggi berukuran 4 meter, tetapi kebanyakan berukuran 1,5 sampai 2,5 meter. Ada 5 klasifikasi megalith, yaltu : patung-patung batu, kalamba, tutu’na, batu dakon dan bentuk lainnya.
Obyek Wisata

Terdapat berbagai obyek wisata alam yang sangat menank di kawasan TNLL, seperti Panorama alam Danau Lindu, Air terjun Wuasa, Danau Tambing, jalur track wisata, lokasi birdwatching, lokasi pengamatan satwa, Camping ground, dan Megalith.
Taman Nasional Lore Lindu merupakan hutan warisan alam dunia yang sangat kaya dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Tujuan ke kawasan ini selain untuk wisata  mendaki gunung, memanjat tebing sambil menikmati panorama alamnya yang indah dan sejuk, juga menjadi obyek penelitian para ilmuwan dalam dan luar negeri. Taman Nasional Lore Lindu juga sebagai cagar biosfer dunia. Letaknya Tidak Jauh dari Danau Poso yang unik dan menyimpan berjuta pesona. atau kurang lebih 60 km sebelah barat kota Palu
Kawasan Taman Nasional Lore Lindu secara administratif berada di Kabupaten Donggala (Kecamatan Kulawi, Sigi biromaru, Palolo dan Pipi koro) dan Poso (Kecamatan Lore Utara, Lore Tengah, Lore Timur, Lore Piore, Lore Barat dan Lore Selatan) – Provinsi Sulawesi Tengah. Kawasan ini telah ditetapkan sejak Tahun 1993 yang merupakan gabungan Suaka Alam Lore Kalamata dan Hutan Lindung dan Taman Rekreasi Danau Lindu. Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau disebut Garis Wallace (Wallace Line) yang membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaang Mongondou hingga Donggala dan Poso melintasi hutan TNLL dan menembus sampai ke hutan-hutan tropis di Sulawesi Tenggara.
Potensi flora dominan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yaitu pohon wanga (Figafeta filaris sp.) dan leda (Eucalyptus deglupta). Sementara potensi fauna yang dapat dijumpai di kawasan tersebut, di antaranya anoa (Anoa quarlesi, Anoa depressicornis), babi rusa (Babyrousa babyrusa), monyet hitam sulawesi (Macaca tonkeana), kuskus (Phalanger ursinus, Phalanger celebencis), tangkasi (Tarsius spectrum) dan rusa (Cervus timorensis). Jenis burung endemik yang ditemukan antara lain maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Buceros rhinoceros, nuri (Tanygnatus sumatrana), kakatua (Cacatua sulphurea), dan Aceros cassidix) dan pecuk ular (Anhinga rufa). Juga hidup bermacam-macam reptil, ikan dan serangga.
Kawasan ini termasuk juga wisata minat khusus dan selalu ada keinginan untuk berkunjung kembali ke kawasan nan indah ini. Tanah Lore yang cantik itu saat ini masih dikatakan benar-benar masih perawan. Untuk perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 3,5 jam dari Palu atau sekitar 1,5 jam dari Poso.
Batu Megalith

Pra sejarahnya, disebutkan bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari daratan cina selatan yang bermigrasi dengan perahu ke arah selatan ribuan tahun yang lalu. Gelombang migrasi ini masuk pula ke Sulawesi dan mereka menetap dipulau ini hingga ke Sulawesi Tengah. Para pengembara ini masuk dalam rumpun ras austronesia yang menyebar dari madagaskar sampai pasifik. Pada saat itu gelombang kedua orang austronesia datang ke sulawesi dengan membawa kebudayaan zaman besi. Dengan alat-alat dari besi ini mereka bisa membuat berbagai model peningglalan dari batu atau dikenal dengan Megalith.
Di sekitar lore lindu terdapat juga peninggalan masa prasejarah Austronesia ini. Pada masanya Sulawesi Tengah diduga menjadi pusat kebudayaan Austronesia ini. Prasasti peninggalan kebudayaan nenek moyang ini berbentuk patung , belanga besar dari batu, lumpang batu dan batu berukir lainnya. Di sekitar Taman Nasional lore lindu lebih dari 350 situs yang ditemukan dan banyak lagi yang belum terungkap. Diduga orang-orang asli di sekitar situs megalit adalah keturunan langsung dari orang-orang yang datang ribuan tahun lalu.

Lore Lindu dan sekitarnya ditetapkan oleh Unesco menjadi cagar biosfer sejak tahun 1977. Meski tempat ini telah menjadi cagar biosfer, namun demikian banyak tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang mencuri dan memperjualbelikan batu-batu bersejarah ini sebagai barang koleksi. Beberapa waktu lalu harian Kompas sempat memuat berita tentang jual beli batu megalith asal Lore Lindu ini.
Tempat yang menjadi pusat keberadaan megalith ini adalah Lembah Behoa,Napu dan Bada yang berada di sekitar TN. Lore Lindu. Disini terdapat peninggalan berupa megalith dalam jumlah cukup banyak.
Jika melihat megalit di tempat asalnya dapat menimbulkan pertanyaan tersendiri. Bagaimana batu seberat dan sebesar itu dapat ada di tengah hamparan padang. Seperti di situs Pokekea di Kecamatan Lore Tengah Poso. Megalit2 berbentuk belanga raksasa yang disebut Kalamba lengkap dengan penutupnya terletak di tempat yang agak tinggi. mengelompok di tengah padang luas membentang yang kalau dilihat dari jauh mirip-mirip dengan lapangan golf. Sedangkan disekitarnya tidak dijumpai sumber dari batu-batu besar ini.

Menurut arkeolog yang meneliti situs ini, sebenarnya ada 3 lokasi situs megalit yaitu, “industri”, pemakaman, pemujaan. Dari lokasi industri, megalith ini batu besar yang sudah dipahat ini ditarik dengan kerbau sampai ke tempat tersebut. Tradisi menarik barang dengan kerbau sampai saat ini masih kita jumpai disekitar kawasan TN Lore Lindu. Di Pulau Sumba model menarik batu dengan kerbau masih dapat dijumpai sampai saat ini.
Lalu apa guna megalit berbentuk belanga raksasa ini? Bila ditilik lebih jauh kalamba ini melambangkan juga perahu roh yang mengacu pada tradisi nenek moyang yang datang dari laut. Kalamba dalam bahasa lore kuno berarti perahu. Perahu arwah. Ada stratifikasi sosial yang membuat perbedaan dalam bentuk kalamba. Ada tutup untuk orang yang berpangkat lengkap dengan hiasan dan ukiran. Ada tempat menaruh sesaji didalam kalamba tersebut, sepintas mirip tempat sabun kalau jaman sekarang.

Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeologi tahun 2000 lalu yang menemukan kerangka manusia dalam kalamba. Kerangka itu sempat diidentifikasi dan menunjukkan ras mongoloid. Dan dari identifikasi carbon dating menunjukkan umur minimal 1500-3000 tahun yang lalu.
Sedangkan patung dari batu yang banyak dan berukuran beragam dari kecil sampai 4 meter itu merupakan personifikasi dari orang yang meninggal tersebut.
Dalam catatan kruytt, sebelum kedatangan belanda tahun 1908 di lore, masih berlaku orang membuat kubur dari batu. Dan masih ada tempat pembuatan kalamba untuk penguburan. Jadi prasati batu ini tidak hanya dari masa prasejarah saja, namun ada yang berasal dari masa yang dekat ratusan tahun saja atau megalit muda. Kadang orang melihat semua peninggalan batu ini berasal dari masa ribuan tahun yang lalu saja.
Berbagai macam prasasti peninggalan orang-orang tua kita dulu masih dapat ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Namun sayang agaknya perhatian kita masih tertuju pada masalah-masalah kebutuhan subsisten primitif. Berbagai situs peninggalan masa lalu hanya dibiarkan saja tanpa perhatian. Tahu-tahu sudah berada di luar negeri.
saduran kota poso.

0 komentar:

Poskan Komentar