Pulau Khayangan Yang Indah

Kisah kehidupan Pulau Khayangan dari masa ke masa


Ini bukan kisah tentang dewi yang mandi di kali trus kehilangan selendangnya. Bukan pula kisah tentang arjuna yang mencari cintanya. Tapi ini adalah satu cerita tentang perjalanan saat ke Makassar kemarin yang tertinggal. Namanya bidadari pasti diasosiasiakan dengan wanita cantik atau perempuan berkulit mulus, berbadan langsing, berambut panjang, yang ada di cerita-cerita legenda legenda atau cerita cerita rakyat pada zaman dahulu.Bahkan ada cerita yang berdasarkan fakta dan kenyataan.

Ini beberapa foto Pulau Khayangan. Yang kanan atas itu foto Pulau Lae-Lae. Dari jauh bagus ya?


Ya, ini cerita saya mengunjungi salah satu dari gugusan kepulauan Spermonde yang ada di Makassar. Pulau Khayangan adalah salah satu dari sebelas anggota gugusan Spermonde tersebut yang terletak ditengah tengah laut,yang dahulunya penduduk atau atau sekelompok orang yang rekreasi datang di pantai losari dan pasti ingin ke pulau khayangan. Selain Khayangan, ada Pulau Lae-Lae, Pulau Samalona, Pulau Barrang Caddi, Barrang Lompo dan lain-lain.

Bagaimana mencapai pulau tesebut?.. tentu saja dengan menyeberangi lautan. Ada dua dermaga yang biasa melayani pengunjung yang ingin ke pulau tersebut. Dermaga pertama adalah dermaga kayu bangkoa. Disini, biasanya ketika masuk dermaga pengunjung sudah banyak ditawari carter perahu oleh para calo. Nah, Dermaga kayu bangkoa ini memang melayani transfer dari satu pulau ke pulau lain, atau dari Kota Makassar ke seluruh pulau-pulau di gugusan tersebut. Enaknya kalo carter perahu, bisa buat rame-rame (kapasitas maks per perahu 10 orang) plus bisa jalan-jalan nggak cuman ke satu pulau ini saja.. tapi ke pulau-pulau lainnya. Hanya saja, karena saat itu saya sendirian dan harga carter satu perahu itu cukup mahal (Rp 300.000), saya mengurungkan niat untuk naik dari dermaga ini. Pilihan lainnya adalah, jika sendiri atau berdua bisa naik perahu dari dermaga POPSA. Ini dermaga yang dikelola memang khusus melayani wisata bahari pulau Khayangan. Disini, pengunjung hanya tinggal membayar Rp 30 ribu rupiah saja udah bisa untuk pulang pergi pulau Khayangan plus biaya masuknya.


Setelah membeli tiket, saya menunggu di joglo yang disediakan dengan kursi-kursi kayu memanjang. Setelah sekira ngumpul beberapa orang, kami beranjak ke dermaga untuk menunggu perahunya. Tenang saja, perahunya ini beroperasi dari jam 6 pagi sampai jam 12 malam melayani rute Makassar kota - Pulau Khayangan bolak-balik. Setiap jam selalu ada koq, jadi nggak butuh waktu lama untuk nunggunya. Kalo mau ke dermaga POPSA nya sendiri cukup mudah. Masih ingat artikel saya tentang Fort Rotterdam?. Kalo nggak, bisa dibaca di sini. Dermaga POPSA bisa ditemukan di seberang Fort Rotterdam itu. Sebelahnya Kampung POPSA, tempat makan-makan semacam integrated food court yang baru dibuka di Makassar.
Perjalanan menuju Pulau Khayangan dari Kota Makassar dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit. Di dalam kapal, mata akan dimanjakan dengan pemandangan birunya laut, dan melihat dari dekat aktivitas pelabuhan Kota Makassar. Kalo beruntung, kita bisa melihat dari dekat pantat kapal tanker, atau kapal-kapal berat pengangkut peti kemas. Rasanya kecil sekali kita disampingnya. Oh iya, jangan bayangkan saya naik perahu yang mewah berkaca, duduk di sofa, dan cepat jalannya ya..perahunya masih tradisional, meskipun menggunakan mesin diesel untuk baling-balingnya. Bunyinya orok-orok kenceng banget, dan kita duduk di kayu.

Beberapa sudut di Pulau Khayangan. Anjungan-anjungan kayu menjorok ke laut

Dari kejauhan, pulau Khayangan tampak bagus. Begitu mendarat saya disuguhi pemandangan pantai pasir putih yang cuman seluasan pekarangan tetangga saya. Nggak lebar-lebar amat, karena keseluruhan pulau Khayangan ini besarnya nggak lebih dari lapangan bola. Sepanjang sejarah, saya baru kali ini mengitari satu pulau dari ujung satu ke ujung yang lain hanya dalam waktu sepuluh menit. Itupun dengan berjalan kaki. Jadi bisa dibayangkan kan, betapa kecilnya pulau ini?.


Pulau Khayangan ini isinya kebanyakan hanya resort dan anjungan anjungan yang menjorok ke laut. Ada restoran, ada kolam renang yang airnya tinggal separuh (dan keruh lagi), ada panggung kesenian (yang catnya dimana-mana udah mulai rusak), dan banyak resort-resort kualitas melati beratap seng yang bolong-bolong dan ditawarkan dengan harga yang cukup mahal.. haduuh. Walaupun judul yang ditawarkan ketika kita akan menyeberang adalah : WISATA BAHARI PULAU KHAYANGAN, jangan bayangkan ada snorkeling atau diving, jetski, banana boat, atau bahkan paralayang atau bungee.. karena disana tidak ada kegiatan rekeatif apa-apa. Padahal saya datang pas weekend lhoo. Memang sih, saya lihat ada banana boat nganggur dan jetski nganggur.. tapi koq bentuknya nggak meyakinkan gitu sih.

Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan. Ngeliatin penduduk yang sedang mandi, ngeliatin karang yang dihempas ombak,ngeliatin anak anak yang sedang kejar kejaran dengan ombak.

Nah, kebanyakan pengunjung yang datang ke Pulau Khayangan ini sih mengaku mereka melarikan diri dari penatnya aktivitas kota. Mereka ingin mencari sesuatu yang tenang, dan jauh dari hingar-bingar keramaian kota. Untuk satu ini saya setuju. Karena Pulau Khayangan suasananya sepi, dan enak buat menyendiri, membaca buku, dan disitu yang terdengar adalah suara ombak memecah batu penahan ombak.. Tapi kalo boleh jujur, pemandangannya di dalam pulaunya sendiri seakan nggak terawat, rusak dan sampah dimana-mana. Satu-satunya sumber listrik adalah genset besar yang terletak di belakang resort. Dan pulau ini sudah penuh dengan bangunan dan campur tangan manusia. Jadi udah nggak alami lagi. Saya sendiri saja nggak lama-lama di pulau ini, hanya sekitar 2 jam. Itupun udah ngeliatin banyak aktivitas orang-orang disini. Kebanyakan mereka memancing ikan, kemudian membakar rame-rame menggunakan fasilitas barbecue dari resort, main voli pantai, atau berenang di pantai pasir putih. Satu lagi yang saya sengaja lewatkan adalah, sunsetnya. Kata orang sih ngeliat sunset di Pulau Khayangan itu sangat bagus.. tapi saya sendiri sudah terlanjur bosan menunggu apalagi sendirian hingga sore hari.


Pada waktu sore hari para pengunjung pulau khayangan berbondong bondong untuk pulang,sebab apabila sudah kesorean takut tidak akan ada lagi perahu.Kecuali perahu carteran,pulau khayangan yang terkenal dengan keangkerannya dan begitu menakutkan,namun para penduduk asli tidak pernah merasa takut sedikitpun.Mungkin karena sudah terbiasa walaupun ada sedikit yang mengganggunya.

0 komentar:

Poskan Komentar