FILM - FILM PENDEKAR

Blog Entry Pendekar Hina Kelana
Minggu ini saya lagi asik bersama keluarga nonton film serial yang berjudul "Laughing In The Wind". Kita lebih akrab mengenalnya sebagai "Pendekar Hina Kelana". Film ini diangkat dari salah satu cerita komersil karya Jin Yong yang berjudul "Xiao Ao Jiang Hu" (The Smilling Proud Wanderer; State of Divinity; The Magic Swords of Ling).

Belum tamat menontonnya, pagi tadi baru memasuki episode 19. Menceritakan petualangan murid pertama dari perguruan Huashan yang bernama Ling Hu Cu. Seorang pendekar muda yang agak slengean, tak pernah serius, sering mabuk-mabukan namun disukai oleh berbagai kalangan, baik dari golongan putih maupun hitam karena sifat kependekaran yang dimilikinya.

Dunia persilatan kala itu sedang dalam situasi panas, permusuhan antara golongan putih dengan kaum sesat mencapai puncaknya.

Dua pendekar senior bersahabat erat sementara mereka datang dari 2 golongan yang bermusuhan. Ketika salah satunya hendak mengundurkan dirinya dari dunia persilatan, akhirnya harus merelakan anak dan istrinya di tumpas oleh pendekar golongan putih karena ia bersahabat dgn seorang golongan hitam. Meninggalkan keluarganya yang tertumpas, kedua pendekar itu melarikan diri dibantu oleh Ling Hu Cu yang kagum akan persahabatan yg terjalin antara kedua orang berbeda golongan itu.

Di puncak gunung, kedua pendekar senior itu melahirkan sebuah tembang yang begitu indahnya, berjudul "Laughing In The Wind". Setelah mempercayakan kitab musik tersebut kepada Ling Hu Cu, keduanya mati bersama-sama.

Dalam petualangannya, beberapa kali Ling Hu Cu bertemu, di tolong nyawanya, maupun bertempur dengan pendekar Gadis Suci. Anak dari salah satu ketua partai hitam yang selalu menutup wajahnya dengan cadar.

Atas kesalahannya menolong kedua pendekar senior tersebut, Ling Hu Cu dihukum menyepi di salah satu gua di puncak gunung Huashan. Justru dalam masa hukuman itu, ia bertemu dengan pendekar sepuh yang mengajarkan ilmu pedang sihir (The Magic Swords). Terbukti di kemudian hari, di satu saat Ling Hu Cu harus menolong kesalamatan gurunya. Disaat itulah terbuka mata semua pendekar, ia memiliki ilmu pedang yang jauh lebih hebat di atas gurunya sendiri.

Dalam satu hari, tanpa sengaja, Ling Hu Cu mengakibatkan tewasnya adik seperguruannya. Di hari yang sama pula, kitab silat rahasia milik perguruannya. Ling Hu Cu dalam posisi tidak dipercaya lagi oleh gurunya.

Ia akhirnya sering mendatangi seorang kakek tua perajin bambu yang pandai memaikan alat musik pula. Ketika ia meminta sang kakek memainkan kitab musik "Laughing In The Wind", sang kakek menyerah dan meminta bantuan pada wanita yang dipanggilnya bibi. Ling Hu Cu pun memanggil wanita bercadar itu dengan sebutan nenek.

Adalah adegan sangat menggelikan sekaligus mengharukan ketika Ling Hu Cu mengetahui bahwa sang nenek yang sangat dihormatinya selama ini adalah Gadis Suci, musuhnya, dimana mereka telah berulang kali bertemu dan bertempur.

"Kenapa kau menipuku mengaku sebagai nenek?" kata Ling Hu Cu.sebab aku ingin sekali bertemu denganmu dan mau melihat keperkasaan yang kau miliki,dengan jalan menipumu inilah salah satu cara yang harus kutempuh.

"Aku tak pernah memintamu memanggilku nenek" jawab Gadis Suci.

"Tapi kakek itu memanggilmu Bibi"

"Apa salahnya ia memanggilku Bibi?"

Keduanya mengulang kejadian yang sama. Akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih dari dua golongan yang bermusuhan. Akankan nasib mereka akan tragis pula akhirnya? Entahlah.

Kini Ling Hu Cu sedang terluka parah, ia dibawa oleh Gadis Suci ke kuil Shaolin. Pendeta disana bersedia menolongnya dengan syarat Gadis Suci harus tinggal di dalam kuil selama 20 tahun, dengan harapan ia dapat memikirkan kembali tindakan kejamnya selama ini.

Sambil menangis terisak, ia mengadu kepada Ling Hu Cu yang tengah pingsan.
"Apakah 20 tahun lagi nanti, kau masih mengenali diriku? Saat itu, mungkin aku sudah benar-benar menjadi seorang nenek..."

Ah, menyenangkan sekali menikmati adegan itu. Cerita pun masih akan terus berlanjut.

0 komentar:

Poskan Komentar