DINASTI YANG TAAT TERHADAP ORANGTUANYA
Diceritakan pada zaman Dinasti Ming ada seorang anak bernama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) yang berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Dalam membesarkan dan mendidik Cu Guan Ciong, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil.
Tai Zu
Tai Zu
Semakin dewasa, karma Cu Guan Ciong semakin baik. Sehingga ketika dewasa, Beliau menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar, Cu Guan Ciong kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.
Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sebagai seorang kaisar, Cu Guan Ciong memberi tintah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan . Selain itu, diperintahkan juga untuk memberikan tanda kertas kuning di atas makam-makam tersebut.
Setelah semua rakyat selesai berizarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibesihkan serta tidak diberi tanda. Kemudian kaisar menziarahi makam-makam tersebut dengan berasumsi bahawa di antara makam-makam tersebut pastilah merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya. Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya.
Bakti kepada orang tua adalah dasar dari segala perbuatan. Yang paling utama adalah bakti saat orang tua masih hidup yaitu dengan berusaha membalas jerih payah mereka membersearkan kita. Saat orang tua telah meninggal dunia, kita mengenang dan mengingat kembali budi-budi mereka dan sekuat tenaga membalasanya.
Itulah kecintaan kita sebagai insan terhadap orang tua,meski dari kecil kita tidak pernah hidup mewah,tapi kasih sayanglah yang berarti dari mereka.Orang Tua tidak pernah membenci anak anaknya,betapa sedih dan menyesalnya kita bila tidak pernah berbakti kepada kedua orang tua yang merawat dan mencurahkan segala isi hati dan perhatiannya terhadap anak anaknya.
Begitupun dengan nasib saya,ketika saya pergi meninggalkan kampung halaman ( tanah kelahiran ) merantau ari Sulawesi ke Pulau Sumatera.Betapa jauhnya jarak yang ditempuh,namun selama di rantau saya sering memberikan kabar,saya juga bisa pulang dan bertemu dengan mereka semasa hidupnya.Yang paling menyedihkan saat saya kembali ke perantauan tiba tiba orang tua saya dipanggil yang Kuasa,sayapun saat itu tak bisa lagi kembali ke kampung karena keterbatasan biaya.Alhasil sampai sampai kapanpun saya tetap akan mengenang dan mengingat dia.Inilah kehidupanku yang hampir mirip dengan Dinasti.

0 komentar:

Poskan Komentar